Mula -mulanya terjadi awan tebal, matahari terhalang oleh awan tersebut selnjutnya terjadi hujan lebat, kemudian hujanberkurang awan pun mulai menipis cahaya matahari memancar lalu butiran butiran air hujan memantul kan cahaya matahari sehingga terjadilah pelangi yang indah dan berwarna merah, kuning dan hijau.
sumber :http://raihanahs.wordpress.com/2010/02/17/proses-terjadinya-pelangi/
Selasa, 04 Januari 2011
proses terjadi pelangi 1
Terjadinya pelangi adalah pembiasan cahaya. Ketika dibiaskan, cahaya akan berubah arah. Biasanya pembelokan ini terjadi ketika cahaya pindah dari medium satu ke yang lain. Hal ini terjadi karena cahaya bergerak dengan kecepatan berbeda dalam medium berlainan.
Ketika memasuki prisma kaca, cahaya akan dibelokkan. Begitu pula jika keluar dari prisma.
Selain membiaskan cahaya, prisma memisahkan cahaya putih menjadi komponen warnanya. Warna cahaya yang berlainan ini berbeda frekuensinya, sehingga memiliki kecepatan tempuh berbeda ketika memasuki suatu zat.
Cahaya yang kecepatannya rendah di dalam kaca akan dibelokkan lebih tajam ketika pindah dari udara ke kaca, karena perbedaan kecepatannya berlainan. Tak mengherankan jika komponen yang membentuk cahaya putih dipisahkan berdasarkan frekuensinya ketika melewati kaca. Pada prisma, cahaya akan dibelokkan dua kali, ketika masuk dan keluar, sehingga penyebaran cahaya terjadi.
Tetesan air hujan dapat membiaskan dan menyebarkan cahaya mirip sebuah prisma. Dalam kondisi yang tepat, pembiasan cahaya ini membentuk pelangi.
sumber :http://jamalandrianto.blogspot.com/2010/09/proses-terjadinya-pelangi.html
Ketika memasuki prisma kaca, cahaya akan dibelokkan. Begitu pula jika keluar dari prisma.
Selain membiaskan cahaya, prisma memisahkan cahaya putih menjadi komponen warnanya. Warna cahaya yang berlainan ini berbeda frekuensinya, sehingga memiliki kecepatan tempuh berbeda ketika memasuki suatu zat.
Cahaya yang kecepatannya rendah di dalam kaca akan dibelokkan lebih tajam ketika pindah dari udara ke kaca, karena perbedaan kecepatannya berlainan. Tak mengherankan jika komponen yang membentuk cahaya putih dipisahkan berdasarkan frekuensinya ketika melewati kaca. Pada prisma, cahaya akan dibelokkan dua kali, ketika masuk dan keluar, sehingga penyebaran cahaya terjadi.
Tetesan air hujan dapat membiaskan dan menyebarkan cahaya mirip sebuah prisma. Dalam kondisi yang tepat, pembiasan cahaya ini membentuk pelangi.
sumber :http://jamalandrianto.blogspot.com/2010/09/proses-terjadinya-pelangi.html
proses terjadi pelangi
Fenomena alam ini hanya muncul sehabis hujan. Begitu indah sehingga menginspirasi banyak lagu, dongeng, dan legenda. Tapi dari kacamata sains, pelangi sangat sederhana. Itu cuma fisika optik semata. Kunci terjadinya pelangi adalah pembiasan cahaya. Ketika dibiaskan, cahaya akan berubah arah. Biasanya pembelokan ini terjadi ketika cahaya pindah dari medium satu ke yang lain. Hal ini terjadi karena cahaya bergerak dengan kecepatan berbeda dalam medium berlainan.
Ketika memasuki prisma kaca, cahaya akan dibelokkan. Begitu pula jika keluar dari prisma. Selain membiaskan cahaya, prisma memisahkan cahaya putih menjadi komponen warnanya. Warna cahaya yang berlainan ini berbeda frekuensinya, sehingga memiliki kecepatan tempuh berbeda ketika memasuki suatu zat.
Cahaya yang kecepatannya rendah di dalam kaca akan dibelokkan lebih tajam ketika pindah dari udara ke kaca, karena perbedaan kecepatannya berlainan. Tak mengherankan jika komponen yang membentuk cahaya putih dipisahkan berdasarkan frekuensinya ketika melewati kaca. Pada prisma, cahaya akan dibelokkan dua kali, ketika masuk dan keluar, sehingga penyebaran cahaya terjadi.
Tetesan air hujan dapat membiaskan dan menyebarkan cahaya mirip sebuah prisma. Dalam kondisi yang tepat, pembiasan cahaya ini membentuk pelangi.
Sumber : Koran Tempo (26 September 2006)
Ketika memasuki prisma kaca, cahaya akan dibelokkan. Begitu pula jika keluar dari prisma. Selain membiaskan cahaya, prisma memisahkan cahaya putih menjadi komponen warnanya. Warna cahaya yang berlainan ini berbeda frekuensinya, sehingga memiliki kecepatan tempuh berbeda ketika memasuki suatu zat.
Cahaya yang kecepatannya rendah di dalam kaca akan dibelokkan lebih tajam ketika pindah dari udara ke kaca, karena perbedaan kecepatannya berlainan. Tak mengherankan jika komponen yang membentuk cahaya putih dipisahkan berdasarkan frekuensinya ketika melewati kaca. Pada prisma, cahaya akan dibelokkan dua kali, ketika masuk dan keluar, sehingga penyebaran cahaya terjadi.
Tetesan air hujan dapat membiaskan dan menyebarkan cahaya mirip sebuah prisma. Dalam kondisi yang tepat, pembiasan cahaya ini membentuk pelangi.
Sumber : Koran Tempo (26 September 2006)
proses terjadi pelangi
Pelangi adalah salah satu fenomena optik yang terjadi secara alamiah dalam atmosfir bumi. Dalam fisika, warna-warna lazim diidentifikasikan dari panjang gelombang. Misalnya, warna merah memiliki panjang gelombang sekitar 625 – 740 nm, dan biru sekitar 435 – 500 nm. Kumpulan warna-warna yang dinyatakan dalam panjang gelombang (biasa disimbolkan dengan λ) ini disebut spektrum warna. Warna-warna ini adalah komponen dari cahaya putih yang disebut cahaya tampak (visible light) atau gelombang tampak. Komponen lainnya adalah cahaya yang tidak tampak (invisible light), seperti inframerah (di sebelah kanan warna merah) dan ultraviolet (di sebelah kiri jingga). Sinar putih yang biasa kita lihat (disebut juga cahaya tampak atau visible light) terdiri dari semua komponen warna dalam spektrum di atas – tentu saja ada komponen lain yang tidak terlihat, disebut invisible light.
Alat paling sederhana yang sering dipakai untuk menguraikan warna putih adalah prisma kaca. Sebuah prisma kaca menguraikan cahaya putih yang datang menjadi komponen-komponen cahayanya. Di alam ini tidak hanya prisma yang bisa menguraikan cahaya. Selain itu. tetesan air dari air hujan adalah salah satu contoh benda yang tersedia di alam yang bisa menguraikan cahaya putih. Ketika seberkas cahaya putih mengenai setetes air, tetesan air ini berprilaku seperti prisma. Dia menguraikan sinar putih tadi sehingga terciptalah warna-warna pelangi. Setetes air berprilaku seperti prisma ketika menerima seberkas cahaya putih. Cahaya tersebut sebagian dipantulkan ke arah pengamat, sebagian lagi diteruskan. Warna dalam pelangi seperti blok-blok yang lebar dikarenakan kita hanya melihat satu warna untuk satu tetesan air. Cahaya matahari yang diuraikan oleh tetesan air A hanya sampai ke mata kita pada panjang gelombang warna merah. Sementara itu, tetesan air B memberikan panjang gelombang warna ungu. Tetesan-tetesan air di antaranya memberikan masing-masing satu panjang gelombang pada mata kita. Sehingga pada akhirnya si pengamat melihat pelangi dengan warna yang lengkap.
Kita hanya bisa melihat pelangi maksimal setengah lingkaran. Untuk melihat pelangi utuh satu lingkaran, maka kita harus berdiri di tempat yang lebih tinggi.
Ilustrasi pada gambar diatas memperlihatkan bahwa pelangi berbentuk lingkaran. Ini adalah benar bahwa pelangi berbentuk lingkaran, bukan parabola seperti anggapan beberapa orang. Di tanah, kita hanya melihat maksimal pelangi setengah lingkaran. Kalau kita berdiri di atas hujan, misalnya di pesawat terbang, maka kita bisa melihat pelangi satu lingkaran utuh. Ini semua disebabkan oleh geometri optik dalam proses penguraian warna. Dengan geometri optik ini juga kita bisa menjelaskan garis lurus yang melewati mata kita dan matahari juga melewati titik pusat lingkaran pelangi. Karena pelangi tercipta melibatkan jarak pengamat dengan tetesan air, maka pelangi selalu bergerak mengikuti pergerakan pengamat. Ini membuat jarak kita dengan pelangi konstan (sama), dengan kata lain kita tidak pernah bisa mendekati pelangi.
sumber :http://denipratama.wordpress.com/2009/03/07/proses-terjadi-pelangi/
pelangi
Alat paling sederhana yang sering dipakai untuk menguraikan warna putih adalah prisma kaca. Sebuah prisma kaca menguraikan cahaya putih yang datang menjadi komponen-komponen cahayanya. Di alam ini tidak hanya prisma yang bisa menguraikan cahaya. Selain itu. tetesan air dari air hujan adalah salah satu contoh benda yang tersedia di alam yang bisa menguraikan cahaya putih. Ketika seberkas cahaya putih mengenai setetes air, tetesan air ini berprilaku seperti prisma. Dia menguraikan sinar putih tadi sehingga terciptalah warna-warna pelangi. Setetes air berprilaku seperti prisma ketika menerima seberkas cahaya putih. Cahaya tersebut sebagian dipantulkan ke arah pengamat, sebagian lagi diteruskan. Warna dalam pelangi seperti blok-blok yang lebar dikarenakan kita hanya melihat satu warna untuk satu tetesan air. Cahaya matahari yang diuraikan oleh tetesan air A hanya sampai ke mata kita pada panjang gelombang warna merah. Sementara itu, tetesan air B memberikan panjang gelombang warna ungu. Tetesan-tetesan air di antaranya memberikan masing-masing satu panjang gelombang pada mata kita. Sehingga pada akhirnya si pengamat melihat pelangi dengan warna yang lengkap.
Kita hanya bisa melihat pelangi maksimal setengah lingkaran. Untuk melihat pelangi utuh satu lingkaran, maka kita harus berdiri di tempat yang lebih tinggi.
Ilustrasi pada gambar diatas memperlihatkan bahwa pelangi berbentuk lingkaran. Ini adalah benar bahwa pelangi berbentuk lingkaran, bukan parabola seperti anggapan beberapa orang. Di tanah, kita hanya melihat maksimal pelangi setengah lingkaran. Kalau kita berdiri di atas hujan, misalnya di pesawat terbang, maka kita bisa melihat pelangi satu lingkaran utuh. Ini semua disebabkan oleh geometri optik dalam proses penguraian warna. Dengan geometri optik ini juga kita bisa menjelaskan garis lurus yang melewati mata kita dan matahari juga melewati titik pusat lingkaran pelangi. Karena pelangi tercipta melibatkan jarak pengamat dengan tetesan air, maka pelangi selalu bergerak mengikuti pergerakan pengamat. Ini membuat jarak kita dengan pelangi konstan (sama), dengan kata lain kita tidak pernah bisa mendekati pelangi.
sumber :http://denipratama.wordpress.com/2009/03/07/proses-terjadi-pelangi/
pelangi
Batas Tata Surya
Menjelang akhir tahun 2003 lalu spacecraft Voyager 1 mulai memasuki batas tata surya. Konfirmasi NASA pada akhir 2004 menyebutkan bahwa Voyager 1 memasuki wilayah termination shock. Akankah Voyager 1 mampu menembus batas tata surya dan keluar dari solar system?
Seperti halnya bumi memiliki berlapis-lapis atmosfer sebagai pelindung kehidupan, tata surya dengan pusat bintang matahari pun memiliki lapisan yang sama yang terletak di orbit terluar setelah planet Pluto. Pelindung tata surya ini disebut heliosphere, sebuah energi dari matahari yang disebut solar wind, karena berbentuk bola jika dilihat dari luar maka disebut heliosphere (helio adalah matahari). Heliosphere melindungi sistem tata surya kita terhadap benda, gas atau energi yang ada di antara sistem-sistem lain, ruang di antara berbagai sistem dalam skala galaksi disebut sebagai interstellar medium. Keberadaan interstellar galaxy inipun diyakini sebagai massa atau energi. Tata surya dengan heliosphere tersebut bergerak mengelilingi inti galaksi Kabut Susu.
Energi matahari atau solar wind yang berupa medan listrik kecepatan tinggi tersebut diredam oleh energi dari interstellar medium (atau bisa dikatakan sebaliknya, energi interstellar medium diredam oleh energi solar wind) yang semuanya terjadi di ruang heliosphere. Tumbukan energi ini terjadi pada bagian heliosphere yang disebut sebagai termination shock. NASA sendiri masih memperdebatkan batas atau panjang termination shock ini meskipun telah diberitakan pada bulan Mei 2005 bahwa Voyager 1 telah keluar dari wilayah termination shock dan sekarang berada di heliosheath. Heliosheath adalah wilayah pada heliosphere sebelum batas terluar yang disebut sebagai heliopause. Solar wind yang telah teredam di wilayah termination shock dari kecepatan supersonik menjadi subsonik kemudian bertabrakan dengan energi kosmik galaksi dan medan magnetik pada busur bow shock di luar heliopause, wilayah gelombang kejut berbentuk busur akibat turbulensi energi yang bertabrakan.
sumber :http://yulian.firdaus.or.id/2005/09/27/batas-tata-surya/
Seperti halnya bumi memiliki berlapis-lapis atmosfer sebagai pelindung kehidupan, tata surya dengan pusat bintang matahari pun memiliki lapisan yang sama yang terletak di orbit terluar setelah planet Pluto. Pelindung tata surya ini disebut heliosphere, sebuah energi dari matahari yang disebut solar wind, karena berbentuk bola jika dilihat dari luar maka disebut heliosphere (helio adalah matahari). Heliosphere melindungi sistem tata surya kita terhadap benda, gas atau energi yang ada di antara sistem-sistem lain, ruang di antara berbagai sistem dalam skala galaksi disebut sebagai interstellar medium. Keberadaan interstellar galaxy inipun diyakini sebagai massa atau energi. Tata surya dengan heliosphere tersebut bergerak mengelilingi inti galaksi Kabut Susu.
Energi matahari atau solar wind yang berupa medan listrik kecepatan tinggi tersebut diredam oleh energi dari interstellar medium (atau bisa dikatakan sebaliknya, energi interstellar medium diredam oleh energi solar wind) yang semuanya terjadi di ruang heliosphere. Tumbukan energi ini terjadi pada bagian heliosphere yang disebut sebagai termination shock. NASA sendiri masih memperdebatkan batas atau panjang termination shock ini meskipun telah diberitakan pada bulan Mei 2005 bahwa Voyager 1 telah keluar dari wilayah termination shock dan sekarang berada di heliosheath. Heliosheath adalah wilayah pada heliosphere sebelum batas terluar yang disebut sebagai heliopause. Solar wind yang telah teredam di wilayah termination shock dari kecepatan supersonik menjadi subsonik kemudian bertabrakan dengan energi kosmik galaksi dan medan magnetik pada busur bow shock di luar heliopause, wilayah gelombang kejut berbentuk busur akibat turbulensi energi yang bertabrakan.
sumber :http://yulian.firdaus.or.id/2005/09/27/batas-tata-surya/
Pengertian Tata Surya
Tata Surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet kerdil/katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi[b], dan jutaan benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya.
Tata Surya terbagi menjadi Matahari, empat planet bagian dalam, sabuk asteroid, empat planet bagian luar, dan di bagian terluar adalah Sabuk Kuiper dan piringan tersebar. Awan Oort diperkirakan terletak di daerah terjauh yang berjarak sekitar seribu kali di luar bagian yang terluar.
Berdasarkan jaraknya dari matahari, kedelapan planet Tata Surya ialah Merkurius (57,9 juta km), Venus (108 juta km), Bumi (150 juta km), Mars (228 juta km), Yupiter (779 juta km), Saturnus (1.430 juta km), Uranus (2.880 juta km), dan Neptunus (4.500 juta km). Sejak pertengahan 2008, ada lima obyek angkasa yang diklasifikasikan sebagai planet kerdil. Orbit planet-planet kerdil, kecuali Ceres, berada lebih jauh dari Neptunus. Kelima planet kerdil tersebut ialah Ceres (415 juta km. di sabuk asteroid; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kelima), Pluto (5.906 juta km.; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kesembilan), Haumea (6.450 juta km), Makemake (6.850 juta km), dan Eris (10.100 juta km).
Enam dari kedelapan planet dan tiga dari kelima planet kerdil itu dikelilingi oleh satelit alami, yang biasa disebut dengan “bulan” sesuai dengan Bulan atau satelit alami Bumi. Masing-masing planet bagian luar dikelilingi oleh cincin planet yang terdiri dari debu dan partikel lain.
Menurut sumber lain tata surya adalah:
Sebuah tata surya terdiri dari satu Matahari dan semua benda angkasa yang beredar mengelilinginya. Matahari adalah bintang yang menghasilkan cahayanya sendiri. Benda yang mengedari bintang dinamakan planet. Sebagian besar planet memiliki satelit (bulan) yang berjalan mengelilinginya. Dalam tata surya kita semuanya terdapat sembilan planet yang mengedari matahari.
Sebuah planet dapat dibagi menjadi dua kelompok: planet besar serta planet kecil. Merkurius, Venus, Bumi dan mars membentuk kelompok empat planet yang kecildan sejenis bumi. Keempat planet ini terdiri dari materi yang kerapatan rata-ratanya empat atau lima kali kerapatan air.
Yupiter, Saturnus dan Neptunus jauh lebih besar daripada planet-planet sejenis Bumi. Jari-jari Yupiter lebih dari sebelas kali jari-jari Bumi, dan volumenya kira-kira 1320 kali lebih besar. Saturnus mempunyai jari-jari 60400 km; ini hampir 10 kali jari-jari Bumi.Yupiter serta Saturnus mempunyai banyak satelit. Uranus mempunyai jari-jari yang panjangnya 23700 km, sedangkan Neptunus mempunyai jati-jari 22300 km. Pluto mempunyai jari-jari 3200 km; ini berarti bahwa Pluto lebih kecil dari Mars.
sumber : http://www.g-excess.com/id/pengertian-tata-surya.html
Tata Surya terbagi menjadi Matahari, empat planet bagian dalam, sabuk asteroid, empat planet bagian luar, dan di bagian terluar adalah Sabuk Kuiper dan piringan tersebar. Awan Oort diperkirakan terletak di daerah terjauh yang berjarak sekitar seribu kali di luar bagian yang terluar.
Berdasarkan jaraknya dari matahari, kedelapan planet Tata Surya ialah Merkurius (57,9 juta km), Venus (108 juta km), Bumi (150 juta km), Mars (228 juta km), Yupiter (779 juta km), Saturnus (1.430 juta km), Uranus (2.880 juta km), dan Neptunus (4.500 juta km). Sejak pertengahan 2008, ada lima obyek angkasa yang diklasifikasikan sebagai planet kerdil. Orbit planet-planet kerdil, kecuali Ceres, berada lebih jauh dari Neptunus. Kelima planet kerdil tersebut ialah Ceres (415 juta km. di sabuk asteroid; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kelima), Pluto (5.906 juta km.; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kesembilan), Haumea (6.450 juta km), Makemake (6.850 juta km), dan Eris (10.100 juta km).
Enam dari kedelapan planet dan tiga dari kelima planet kerdil itu dikelilingi oleh satelit alami, yang biasa disebut dengan “bulan” sesuai dengan Bulan atau satelit alami Bumi. Masing-masing planet bagian luar dikelilingi oleh cincin planet yang terdiri dari debu dan partikel lain.
Menurut sumber lain tata surya adalah:
Sebuah tata surya terdiri dari satu Matahari dan semua benda angkasa yang beredar mengelilinginya. Matahari adalah bintang yang menghasilkan cahayanya sendiri. Benda yang mengedari bintang dinamakan planet. Sebagian besar planet memiliki satelit (bulan) yang berjalan mengelilinginya. Dalam tata surya kita semuanya terdapat sembilan planet yang mengedari matahari.
Sebuah planet dapat dibagi menjadi dua kelompok: planet besar serta planet kecil. Merkurius, Venus, Bumi dan mars membentuk kelompok empat planet yang kecildan sejenis bumi. Keempat planet ini terdiri dari materi yang kerapatan rata-ratanya empat atau lima kali kerapatan air.
Yupiter, Saturnus dan Neptunus jauh lebih besar daripada planet-planet sejenis Bumi. Jari-jari Yupiter lebih dari sebelas kali jari-jari Bumi, dan volumenya kira-kira 1320 kali lebih besar. Saturnus mempunyai jari-jari 60400 km; ini hampir 10 kali jari-jari Bumi.Yupiter serta Saturnus mempunyai banyak satelit. Uranus mempunyai jari-jari yang panjangnya 23700 km, sedangkan Neptunus mempunyai jati-jari 22300 km. Pluto mempunyai jari-jari 3200 km; ini berarti bahwa Pluto lebih kecil dari Mars.
sumber : http://www.g-excess.com/id/pengertian-tata-surya.html
Ditemukan lagi Tata Surya Di Luar Bima Sakti
Ditemukan lagi tata surya baru di luar Bima Sakti dengan 5 planet ukuran besar. Bintang yang menjadi pusat tata surya itu berjarak 127 tahun cahaya dari rasi bintang Hydrus, demikian European Southern Observatory (ESO) yang dikutip nationalgeographic.co.id. 26 Agustus 2010.
Penemuan planet di luar Bima Sakti ini merupakan terbesar sejak 15 tahun terakhir. Para astronom sudah memastikan 5 planet yang mengelilingi bintang disebut HD 10180.
Kelima planet itu besar-besar, sebesar Planet Neptunus, yang mengelilingi HD 10180 dengan jarak relatif lebih dekat ketimbang planet-planet di Bima Sakti mengelilingi matahari. Setiap planet mengelilingi HD 1080 dalam rentang waktu 6 sampai 600 hari. Sebagai perbandingan, bumi mengelilingi matahari butuh waktu 365 hari.
Planet-planet yang mengelilingi bintang tersebut ditemukan melalui penelitian selama 6 tahun. Penelitian dilakukan dengan menggunakan spektograf, alat untuk menangkap dan menganalisis cahaya.
Metode penelitian dilakukan berdasarkan pembelokan cahaya yang diakibatkan oleh gravitasi planet. Sedikit saja cahaya berbelok, bisa menjadi arti besar dalam menentukan massa planet.
Selain kelima planet, astronom masih menyelidiki kemungkinan adanya 2 planet lagi di tata surya itu. Salah satu planet berukuran sangat besar, sekitar ukuran Saturnus, dan mengorbit dalam waktu 2.200 hari. Planet lainnya sebesar 1,4 kali massa Bumi dan berjarak sangat dekat dengan HD 10180. Planet ini merupakan planet terkecil di tata surya itu. (*)
sumber : http://www.tribunnews.com/2010/08/27/ditemukan-lagi-tata-surya-di-luar-bima-sakti
Penemuan planet di luar Bima Sakti ini merupakan terbesar sejak 15 tahun terakhir. Para astronom sudah memastikan 5 planet yang mengelilingi bintang disebut HD 10180.
Kelima planet itu besar-besar, sebesar Planet Neptunus, yang mengelilingi HD 10180 dengan jarak relatif lebih dekat ketimbang planet-planet di Bima Sakti mengelilingi matahari. Setiap planet mengelilingi HD 1080 dalam rentang waktu 6 sampai 600 hari. Sebagai perbandingan, bumi mengelilingi matahari butuh waktu 365 hari.
Planet-planet yang mengelilingi bintang tersebut ditemukan melalui penelitian selama 6 tahun. Penelitian dilakukan dengan menggunakan spektograf, alat untuk menangkap dan menganalisis cahaya.
Metode penelitian dilakukan berdasarkan pembelokan cahaya yang diakibatkan oleh gravitasi planet. Sedikit saja cahaya berbelok, bisa menjadi arti besar dalam menentukan massa planet.
Selain kelima planet, astronom masih menyelidiki kemungkinan adanya 2 planet lagi di tata surya itu. Salah satu planet berukuran sangat besar, sekitar ukuran Saturnus, dan mengorbit dalam waktu 2.200 hari. Planet lainnya sebesar 1,4 kali massa Bumi dan berjarak sangat dekat dengan HD 10180. Planet ini merupakan planet terkecil di tata surya itu. (*)
sumber : http://www.tribunnews.com/2010/08/27/ditemukan-lagi-tata-surya-di-luar-bima-sakti
Langganan:
Postingan (Atom)